<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Circus of Heaven</title>
	<atom:link href="http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/</link>
	<description>Conundrum of Astronomy, particularly in South East Asia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 00:04:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: rihanna lyrics</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-199</link>
		<dc:creator>rihanna lyrics</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 21:03:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-199</guid>
		<description>&lt;strong&gt;rihanna lyrics&lt;/strong&gt;

I Googled for something completely different, but found your page...and have to say thanks. nice read.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>rihanna lyrics</strong></p>
<p>I Googled for something completely different, but found your page&#8230;and have to say thanks. nice read.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ivie</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-62</link>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 11:04:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-62</guid>
		<description>btw lupa.. ini hasil wawancara langsung ma sumbernya &lt;a href=&quot;http://langitselatan.com/2007/06/15/bosscha-observatorium-riset-atau-publik/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt; Bosscha Observatorium Riset atau Publik?&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>btw lupa.. ini hasil wawancara langsung ma sumbernya <a href="http://langitselatan.com/2007/06/15/bosscha-observatorium-riset-atau-publik/" rel="nofollow"> Bosscha Observatorium Riset atau Publik?</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nggieng</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-60</link>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Aug 2007 13:07:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-60</guid>
		<description>Om Sawung, kalaupun tulisan ini dianggap mengkritik ITB sih, monggo aja, secara tulisanku ini lebih bersifat inquiry dan bukan investigative report, jadi aku secara pribadi tidak mengarahkan diri untuk mengkritik ITB.

Jadi, kalau mau di copy ke kritik-itb, ya go ahead, sepanjang normatif-nya masih dijaga, seperti sumber dari mana? Saya siapa? (mumpung masih punya status jadi mahasiswa Astronomi ITB)

Btw, tx bwat pemberitahuannya ya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Om Sawung, kalaupun tulisan ini dianggap mengkritik ITB sih, monggo aja, secara tulisanku ini lebih bersifat inquiry dan bukan investigative report, jadi aku secara pribadi tidak mengarahkan diri untuk mengkritik ITB.</p>
<p>Jadi, kalau mau di copy ke kritik-itb, ya go ahead, sepanjang normatif-nya masih dijaga, seperti sumber dari mana? Saya siapa? (mumpung masih punya status jadi mahasiswa Astronomi ITB)</p>
<p>Btw, tx bwat pemberitahuannya ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: sawung</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-59</link>
		<dc:creator>sawung</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Aug 2007 12:36:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-59</guid>
		<description>om sungging boleh ga tulisannya di copy ke www.kritik-itb.com?
Kalo ga om sungging sendiri yang ngepost di www.kritik-itb.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>om sungging boleh ga tulisannya di copy ke <a href="http://www.kritik-itb.com?" rel="nofollow">http://www.kritik-itb.com?</a><br />
Kalo ga om sungging sendiri yang ngepost di <a href="http://www.kritik-itb.com" rel="nofollow">http://www.kritik-itb.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nggieng</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-58</link>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 14:23:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-58</guid>
		<description>Well .. bung (atau mbak?) erp, seperti yang saya bilang sebelumnya, saya cuman memberi garis bawah pada &#039;kegamangan&#039;, saya setuju saja sih dengan turisme untuk pendidikan; bukan tidak mungkin calon2 astronom masa depan Indonesia lahir diantara para pengunjung itu. Lagian semua observatori canggih di muka Bumi ini jg melakukannya. Tapi? Jangan lupa fungsi utama Obs. Bosscha itu bukan museum, tapi sebagai OBSERVATORIUM.

Jadi, kemana arahnya? Ini tidak hanya tanggung jawab Obs. Bosscha, ITB, Pemerintah, Masyarakat, tapi semua pihak untuk terlibat, dan menentukan langkah yang baik, tepat dan sesuai, secara bersama2; toh pada akhirnya manfaatnya bisa dirasakan untuk semua.

Absurd keliatannya? Ya memang kalau benang keruwetan tidak diurai. Realisasinya? Ya, bung erp sudah sampaikan, regulasi dan regulasi, tapi kalau regulasi-nya pun tumpang tindih? Gak usah jauh2, emang ada yang peduli soal kelestarian Bandung Utara?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Well .. bung (atau mbak?) erp, seperti yang saya bilang sebelumnya, saya cuman memberi garis bawah pada &#8216;kegamangan&#8217;, saya setuju saja sih dengan turisme untuk pendidikan; bukan tidak mungkin calon2 astronom masa depan Indonesia lahir diantara para pengunjung itu. Lagian semua observatori canggih di muka Bumi ini jg melakukannya. Tapi? Jangan lupa fungsi utama Obs. Bosscha itu bukan museum, tapi sebagai OBSERVATORIUM.</p>
<p>Jadi, kemana arahnya? Ini tidak hanya tanggung jawab Obs. Bosscha, ITB, Pemerintah, Masyarakat, tapi semua pihak untuk terlibat, dan menentukan langkah yang baik, tepat dan sesuai, secara bersama2; toh pada akhirnya manfaatnya bisa dirasakan untuk semua.</p>
<p>Absurd keliatannya? Ya memang kalau benang keruwetan tidak diurai. Realisasinya? Ya, bung erp sudah sampaikan, regulasi dan regulasi, tapi kalau regulasi-nya pun tumpang tindih? Gak usah jauh2, emang ada yang peduli soal kelestarian Bandung Utara?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ivie</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-57</link>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 13:37:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-57</guid>
		<description>Rasanya ini bukan soal antipati atau tidak. tapi ketika publik sudah memperlakukan situs penelitian sebagai tempat wisata..  bahkan mengambil begitu banyak waktu yg hrsnya disediakan buat penelitian lantas dimanakah fungsi riset dari sebuah observatorium??

Btw.. Observatorium bosscha pun bukan tempat wisata. Saya heran anda saudara erp malah menempatkan Obs Bosscha sebagai tempat wisata. Dengan pemikiran seperti saudara maka berarti Bosscha hanya sekedar situs sejarah yg berfungsi sebagai tempat kunjungan. Dan itu salah besar. Pada akhirnya gak heran kalau fungsi riset jadi tumpul dan bahkan tidak lagi bisa dilakukan. Kalau sudah demikian tutup saja Bosscha dan gantikan saja dia sebagai museum atau situs sejarah not less n not more.

Kondisi yg anda anggap wajar mengenai Bosscha sebagai tempat wisata inilah yang secara perlahan namun pasti sudah mematikan fungsi utamanya adalah observatorium riset.

Still gue ngerasa banyak belajar dari Profesor Kozai maupun Prof Hashimoto. Melihat bagaimana mereka menghandle usulan2 ttg pemakaian observatorium pada publik dengan mengacu pd jadwal dan aturan yg tidak bisa diganggu gugat untuk fungsi riset dari Gunma. They know research must go on and public service has their own time.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya ini bukan soal antipati atau tidak. tapi ketika publik sudah memperlakukan situs penelitian sebagai tempat wisata..  bahkan mengambil begitu banyak waktu yg hrsnya disediakan buat penelitian lantas dimanakah fungsi riset dari sebuah observatorium??</p>
<p>Btw.. Observatorium bosscha pun bukan tempat wisata. Saya heran anda saudara erp malah menempatkan Obs Bosscha sebagai tempat wisata. Dengan pemikiran seperti saudara maka berarti Bosscha hanya sekedar situs sejarah yg berfungsi sebagai tempat kunjungan. Dan itu salah besar. Pada akhirnya gak heran kalau fungsi riset jadi tumpul dan bahkan tidak lagi bisa dilakukan. Kalau sudah demikian tutup saja Bosscha dan gantikan saja dia sebagai museum atau situs sejarah not less n not more.</p>
<p>Kondisi yg anda anggap wajar mengenai Bosscha sebagai tempat wisata inilah yang secara perlahan namun pasti sudah mematikan fungsi utamanya adalah observatorium riset.</p>
<p>Still gue ngerasa banyak belajar dari Profesor Kozai maupun Prof Hashimoto. Melihat bagaimana mereka menghandle usulan2 ttg pemakaian observatorium pada publik dengan mengacu pd jadwal dan aturan yg tidak bisa diganggu gugat untuk fungsi riset dari Gunma. They know research must go on and public service has their own time.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: erp</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-56</link>
		<dc:creator>erp</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 12:46:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-56</guid>
		<description>Mungkin yang belum banyak orang ketahui adalah..pariwisata tidak hanya sekedar pariwisata &quot;massal&quot; tak terkendali. Gelar tikar di halaman sambil ngabotram dikelilingi oleh pedagang asongan yang menawari aneka pin bosscha. Ada juga yang namanya pariwisata berkelanjutan, sustainable tourism , yang diantaranya memperhitungkan carrying capacity suatu tempat. 
Kuncinya ada pada visitor management/pengelolaan pengunjung, bagaimana zonasinya, berapa kapasitasnya/group limit, timingnya, dan sederet regulasi lain yang dapat diterapkan dalam ketataruangan.
Jangan antipati pada tourism, khususnya yang bersifat interpretatif, karena hal ini akan memberikan wawasan yang sangat berharga bagi publik.Terimakasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin yang belum banyak orang ketahui adalah..pariwisata tidak hanya sekedar pariwisata &#8220;massal&#8221; tak terkendali. Gelar tikar di halaman sambil ngabotram dikelilingi oleh pedagang asongan yang menawari aneka pin bosscha. Ada juga yang namanya pariwisata berkelanjutan, sustainable tourism , yang diantaranya memperhitungkan carrying capacity suatu tempat.<br />
Kuncinya ada pada visitor management/pengelolaan pengunjung, bagaimana zonasinya, berapa kapasitasnya/group limit, timingnya, dan sederet regulasi lain yang dapat diterapkan dalam ketataruangan.<br />
Jangan antipati pada tourism, khususnya yang bersifat interpretatif, karena hal ini akan memberikan wawasan yang sangat berharga bagi publik.Terimakasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nggieng</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-35</link>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 10:32:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-35</guid>
		<description>Terimakasih pak Bruce, saya setuju dgn pedapat bapak, there must be a good way kl dua2nya bisa jalan bersama2, itu akan sangat bagus. What i am trying to aim is: Untuk kasus seperti bangsa Indonesia, sepanjang yang saya liat, masih ada ketercampuran antara yang mana jatah publik, yang mana yg jatah sendiri. Well, gak ada yg salah dan gak harus menyalahkan, tp komunitas astronomi di Indonesia masih sedikit, terus kl blum punya keberpijakan yang jelas, mau publik, mau riset .. yg ada kemudian, gamang.

Kalau sudah gamang, terus mau melangkah kemana? Pada akhirnya adalah, yang jadi korban kemudian ya diri kita sendiri kan? Mungkin masyarakat akan selalu terpuaskan keingintahuan-nya, tapi kl kemudian pemberi informasi sudah kelelahan dengan kegiatan ke-PR-an-nya, kapan bisa memberi informasi yang lebih terkini? Apa gak kemudian yang terjadi adalah pembodohan?

Bottom line, saya gak mencoba menyalahkan siapa2, hanya sekedar ironi. Terimakasih pak Bruce untuk urun pikirannya, informasi seperti ini akan berguna untuk diri kita sendiri, baik untuk masyarakat, maupun yg berkecimpung di dalamnya. Selamat menikmati week end di Observatorium Bosscha, satu2nya aset astronomi berharga yang Indonesia punya. *another ironi*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terimakasih pak Bruce, saya setuju dgn pedapat bapak, there must be a good way kl dua2nya bisa jalan bersama2, itu akan sangat bagus. What i am trying to aim is: Untuk kasus seperti bangsa Indonesia, sepanjang yang saya liat, masih ada ketercampuran antara yang mana jatah publik, yang mana yg jatah sendiri. Well, gak ada yg salah dan gak harus menyalahkan, tp komunitas astronomi di Indonesia masih sedikit, terus kl blum punya keberpijakan yang jelas, mau publik, mau riset .. yg ada kemudian, gamang.</p>
<p>Kalau sudah gamang, terus mau melangkah kemana? Pada akhirnya adalah, yang jadi korban kemudian ya diri kita sendiri kan? Mungkin masyarakat akan selalu terpuaskan keingintahuan-nya, tapi kl kemudian pemberi informasi sudah kelelahan dengan kegiatan ke-PR-an-nya, kapan bisa memberi informasi yang lebih terkini? Apa gak kemudian yang terjadi adalah pembodohan?</p>
<p>Bottom line, saya gak mencoba menyalahkan siapa2, hanya sekedar ironi. Terimakasih pak Bruce untuk urun pikirannya, informasi seperti ini akan berguna untuk diri kita sendiri, baik untuk masyarakat, maupun yg berkecimpung di dalamnya. Selamat menikmati week end di Observatorium Bosscha, satu2nya aset astronomi berharga yang Indonesia punya. *another ironi*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Bruce</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-34</link>
		<dc:creator>Bruce</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 08:32:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-34</guid>
		<description>Week end ini saya akan ke Lembang, bersama anak saya, umurnya baru 6 thn, makanyasaya cari2 informasi mengenai things to do in Lembang.  Kemudian  saya ingat kalau di lembang ada observatorium Bosscha (ngga salah nulis kan), mulai deh cari2 informasi mengenai ovbservatorium Bosscha, jam buka, kunjungan publik dan sebagainya, dan gak sengaja ketemu dgn  blog ini. Menurut saya menarik juga tulisannya, dan sebagai orang awam, bukan astronomer (amatir juga bukan) dan sebagai calon pengunjung Bosscha, saya pikir gak ada salahnya membuka bosscha untuk publik seluas-luasnya, walaupun disitu masih tetap dilakukan kegiatan riset. 500 pengunjung perhari menurut saya tidak banyak, kalau dibagi dalam 3-4 session, paling2 at the same time ada 100-200 orang. masih mungkin, hanya saja memang perlu penanganan yang serius. Seumur hidup saya, saya baru 3 kali pergi ke observatorium betulan, yag 2 public, yang satu riset. menariknya, dua-duanya dibuka untuk umum, setiap hari. Observatorium public yang saya datangi adalah di Mount Griffith, Los Angeles California (dua-duanya karena nganter tamu yang pengen foto di bukit yg ada tulisan hollywoodnya) yg ini benar2 public, ada cafenya, planetarium, souvenir shop dll. Yang kedua ngga jauh dari situ, di Mount Palomar.Kalo yang ini bener2 research fasility milik California insititue of Technology di San Diego kalo ngga salah. Saya yakin para astronomer pasti sudah familiar dgn Mount Palomar observatory ini. Yang menarik di mount Palomar inipun setiap hari dibuka untuk umum, gak ada quota 500 pengunjung perhari, bahkan sampai ke hall (mereka bilangnya gallery  klu gak salah) tempat beberapa telescope raksasa berkumpul juga dibuka untuk public. Namun jam 4.30 sore area sudah harus dikosongkan karena setiap malam di tempat tersebut secara aktif digunakan  untuk research benaran, oleh para profesor beneran juga. Yang menarik lagi, science disitu (walaupun di tempat research ) disajikan dalam bentuk yang sangat umum dgn bahasa public, jadi cukup menarik buat kita2. 
So what I  am saying is, lets get along together, public and research or public or even industrial facility. Cukup banyak contoh tempat dimana mereka akur dan masyarakat bisa melihat apa yang dilakukan oleh para ahli/industrialis tersebut, dalam batas-batas yang wajar. Di Hoover Dam San Diego misalnya kita bisa melihat turbin beneran yg dipakai untuk men-generate tenaga listrik ke setengah pantai barat amerika, di Boeing Seattle, dan Cape Caneferal tempat ngeluncurin roket di florida juga di buka untuk umum, lengkap dengan souvenir shop. 
Okaylah, cukup dari saya, mudah2an minggu ini saya bisa nunjukin ke anak saya yg umur 6 thn bagaimana bentuk teleskop beneran, at least kalau tutup/ditutup  kita bisa ngeliat dari luarnya aja. So far sih anak saya kalau main2 pake teleskop murahan milik kita di rumah cukup excited, liat2 kawah bulan ato planet mars dan venus (klu lagi untung gak mendung, biarpun kadang2 sambil bela2in naik ke loteng garasi biar gak ketutup genteng tetangga ), sambil dia nanya2 &quot;Daddy, itu di Mars apa ada alien yang kaya di film Chicken Little ya&quot; 
regard
Bruce</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Week end ini saya akan ke Lembang, bersama anak saya, umurnya baru 6 thn, makanyasaya cari2 informasi mengenai things to do in Lembang.  Kemudian  saya ingat kalau di lembang ada observatorium Bosscha (ngga salah nulis kan), mulai deh cari2 informasi mengenai ovbservatorium Bosscha, jam buka, kunjungan publik dan sebagainya, dan gak sengaja ketemu dgn  blog ini. Menurut saya menarik juga tulisannya, dan sebagai orang awam, bukan astronomer (amatir juga bukan) dan sebagai calon pengunjung Bosscha, saya pikir gak ada salahnya membuka bosscha untuk publik seluas-luasnya, walaupun disitu masih tetap dilakukan kegiatan riset. 500 pengunjung perhari menurut saya tidak banyak, kalau dibagi dalam 3-4 session, paling2 at the same time ada 100-200 orang. masih mungkin, hanya saja memang perlu penanganan yang serius. Seumur hidup saya, saya baru 3 kali pergi ke observatorium betulan, yag 2 public, yang satu riset. menariknya, dua-duanya dibuka untuk umum, setiap hari. Observatorium public yang saya datangi adalah di Mount Griffith, Los Angeles California (dua-duanya karena nganter tamu yang pengen foto di bukit yg ada tulisan hollywoodnya) yg ini benar2 public, ada cafenya, planetarium, souvenir shop dll. Yang kedua ngga jauh dari situ, di Mount Palomar.Kalo yang ini bener2 research fasility milik California insititue of Technology di San Diego kalo ngga salah. Saya yakin para astronomer pasti sudah familiar dgn Mount Palomar observatory ini. Yang menarik di mount Palomar inipun setiap hari dibuka untuk umum, gak ada quota 500 pengunjung perhari, bahkan sampai ke hall (mereka bilangnya gallery  klu gak salah) tempat beberapa telescope raksasa berkumpul juga dibuka untuk public. Namun jam 4.30 sore area sudah harus dikosongkan karena setiap malam di tempat tersebut secara aktif digunakan  untuk research benaran, oleh para profesor beneran juga. Yang menarik lagi, science disitu (walaupun di tempat research ) disajikan dalam bentuk yang sangat umum dgn bahasa public, jadi cukup menarik buat kita2.<br />
So what I  am saying is, lets get along together, public and research or public or even industrial facility. Cukup banyak contoh tempat dimana mereka akur dan masyarakat bisa melihat apa yang dilakukan oleh para ahli/industrialis tersebut, dalam batas-batas yang wajar. Di Hoover Dam San Diego misalnya kita bisa melihat turbin beneran yg dipakai untuk men-generate tenaga listrik ke setengah pantai barat amerika, di Boeing Seattle, dan Cape Caneferal tempat ngeluncurin roket di florida juga di buka untuk umum, lengkap dengan souvenir shop.<br />
Okaylah, cukup dari saya, mudah2an minggu ini saya bisa nunjukin ke anak saya yg umur 6 thn bagaimana bentuk teleskop beneran, at least kalau tutup/ditutup  kita bisa ngeliat dari luarnya aja. So far sih anak saya kalau main2 pake teleskop murahan milik kita di rumah cukup excited, liat2 kawah bulan ato planet mars dan venus (klu lagi untung gak mendung, biarpun kadang2 sambil bela2in naik ke loteng garasi biar gak ketutup genteng tetangga ), sambil dia nanya2 &#8220;Daddy, itu di Mars apa ada alien yang kaya di film Chicken Little ya&#8221;<br />
regard<br />
Bruce</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ivie</title>
		<link>http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-32</link>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 04:28:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nggieng.wordpress.com/2007/05/26/circus-of-heaven/#comment-32</guid>
		<description>nambah .... kesalahan penulisan nama bosscha juga ditemukan di antara</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nambah &#8230;. kesalahan penulisan nama bosscha juga ditemukan di antara</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
